Senin, 04 Mei 2020

Fenomena Kepenulisan


            Sebenarnya saya tidak suka membaca, karena menurut saya jika membaca dengan teks yang panjang sangat membosankan. Saya lebih suka menulis. Dengan menulis saya bisa mencurahkan apa yang terlintas di pikiran saya, saya bisa luapkan itu semua melalui tulisan.

            Kalau saya jadi penulis, saya ingin menjadi penulis random seperti puisi salah satu contohnya. Kenapa? Karena dari sebuah curahan bisa terbentuk bait yang indah. Ketika saya jatuh cinta, itu akan menjadi sebuah puisi cinta, dan lain macamnya.

Berikut adalah fenomena kepenulisan yang sering terjadi :

Memulainya dengan Mencari Judul

            Ide akan hadir ketika ada permasalahan, ada fenomena. Ide menuntut kejelian dari peneliti untuk menangkap fenomena. Caranya? Bisa dilakukan dengan cara melihat, mendengarkan, mengamati, atau mengalaminya sendiri. Artinya, mahasiswa harus peka terhadap perkembangan di sekitarnya.
Tangkap fenomena, temukan ide, tentukan fokus masalah, barulah judul dapat ditentukan.

Permasalahan Tidak Fokus

            Fokus masalah adalah masalah yang lebih dominan muncul dalam fenomena/objek yang ingin dikaji, lebih krusial, dan lebih aktual. Setiap fenomena atau kasus pasti memiliki fokus utama permasalahan, dan peneliti hendaknya jeli terhadap hal itu. Peneliti tidak boleh terlalu rakus ingin membahas segala hal, dari berbagai sisi. Karena sudah sifatnya kajian yang abstraksi, hanya mampu menjelaskan sisi tertentu saja. Jika keseluruhan, pasti akan sangat melelahkan peneliti dan membuat kajian tidak mendalam.
            Misalnya, fenomena yang ditangkap adalah mengenai adanya eksploitasi perempuan di media massa. Maka yang seharusnya dibahas adalah mengenai penekanan pada bentuk-bentuk eksploitasi yang diterima oleh perempuan, seperti: stereotipe, labelisasi, stigmatisasi, komodifikasi, patriarkisme, kekerasan simbolik, dsb dari industri media terhadap perempuan. Penekanan masalah lebih baik membahas satu konteks konsep saja agar batasan masalah tidak meluas kemana-mana.

Remeh dengan Data/Observasi Awal

            Penulisan latar belakang masalah juga harus didukung dengan data-data awal sebagai bukti bahwa masalah itu benar terjadi, bukan diciptakan. Data-data yang ditemukan peneliti di lapangan dapat menjadi fakta bahwa penulisan latar belakang bukan sekadar anganan penulis belaka. Hanya saja, inilah yang paling sering diabaikan mahasiswa ketika meramu latar belakang masalah. Tidak menganggap penting data awal penelitian.
            Untuk menemukan masalah, penulis harus dapat memperkuat temuan data/fakta terhadap suatu fenomena. Dikatakan terdapat suatu masalah adalah ketika ada kesenjangan antara das sein dengan das sollen, ada pertentangan antara fakta yang ditemukan di lapangan (kasus-kasus ataupun bukti data yang sudah teruj/kredibel) dengan harapan-harapan ataupun norma-norma yang telah disepakati bersama (visi-misi, undang-undang, kebijakan, dsb).

Salah dalam Menjelaskan

            Hal terakhir yang juga mungkin rentan dilakukan oleh peneliti pemula adalah kesalahan dalam menjelaskan latar belakang masalah. Kesalahan dalam menjelaskan membuat alur tulisan tidak runut dan teratur, sehingga tidak enak dibaca dan membingungkan. Kesalahan dalam menjelaskan bisa berkaitan dengan alur, kelengkapan unsur-unsur tulisan, teknik transisional, kedalaman, dan teknik penutupan yang tepat.
            Cara paling mudah agar dapat menjelaskan dengan baik adalah membuat pointer atau kerangka penulisan latar belakang. Penulis pemula lebih baik menyusun terlebih dahulu poin-poin penting yang ingin dibahas, dengan melengkapi temuan kasus, data-data, undang-undang /kebijakan/norma yang berkaitan, kajian teoritis yang tepat, dan alasan mengapa penelitian penting dilakukan.

Perbedaan Tokoh dan Penokohan


Sebelum kita mengetahui perbedaan tokoh dan penokohan sebaiknya kita perlu juga mengetahui pengertian di antara tokoh dan penokohan, brikut adalah pengertianya.

A .Tokoh, menurut Aminudin (2002: 79) tokoh adalah pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita. Istilah tokoh mengacu pada orangnya, pelaku cerita (Nurgiyantoro, 1995: 165). Tokoh adalah salah satu unsur yang penting dalam suatu novel atau cerita rekaan. Menurut Sudjiman (1988: 16) tokoh adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau berlakuan di dalam berbagai peristiwa cerita. Tokoh pada umumnya berwujud manusia, tetapi dapat juga berwujud binatang atau benda yang diinsankan.

Menurut Abrams (dalam Nurgiyantoro 1995:165) tokoh cerita merupakan orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif atau drama oleh pembaca kualitas moral dan kecenderungan-kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan dilakukan dalam tindakan. Berdasarkan pengertian di atas dapat dikatakan bahwa tokoh cerita adalah individu rekaan yang mempunyai watak dan perilaku tertentu sebagai pelaku yang mengalami peristiwa dalam cerita.

B .Penokohan, penokohan dan perwatakan adalah pelukisan mengenai tokoh cerita, baik keadaan lahirnya maupun batinnya yang dapat berubah, pandangan hidupnya, sikapnya, keyakinannya, adat istiadatnya, dan sebagainya. Menurut Jones dalam Nurgiyantoro (1995:165) penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita. Menurut Sudjiman (1988:22) watak adalah kualitas nalar dan jiwa tokoh yang membedakannya dengan tokoh lain.

Penyajian watak tokoh dan penciptaan citra tokoh ini yang disebut penokohan. Penokohan dan perwatakan sangat erat kaitannya. Penokohan berhubungan dengan cara pengarang menentukan dan memilih tokoh-tokohnya serta memberi nama tokoh tersebut, sedangkan perwatakan berhubungan dengan bagaimana watak tokoh-tokoh tersebut. Berdasarkan pendapat-pendapat di atas dapat dikatakan bahwa penokohan adalah penggambaran atau pelukisan mengenai tokoh cerita baik lahirnya maupun batinnya oleh seorang pengarang.

Tokoh adalah pelaku yang diceritakan dalam sebuah cerita.
Tokoh dibagi menjadi dua, yaitu
1) tokoh utama
2) tokoh pendamping
Contoh pada cerita Malin Kundang. Tokoh utamanya adalah Malin Kundang. Sedangkan tokoh pendamping adalah ibu Malin Kundang, saudagar kaya, istri Malin Kundang

Penokohan atau disebut juga perwatakan adalah sifat-sifat yang dimiliki oleh tokoh.
Penokohan dibagi menjadi tiga, yaitu:
1) tokoh proragonis (tokoh yang memiliki sifat baik)
2) tokoh antagonis (tokoh yang memiliki sifat buruk)
3) tokoh tritagonis (tokoh penengah)
Contoh pada cerita Bawang Putih dan Bawang Merah. Tokoh protagonis adalah Bawang Putih. Tokoh antagonis adalah Bawang Merah dan Ibu Tiri. Tokoh Tritagonis adalah nenek yang memberikan buah labu.

Prosa Fiksi


Sejarah Prosa Fiksi

     Nusantara adalah wilayah yang kekayaan karya prosanya sangat luar bias. Karya-karya prosa itu terbentang mulai dari karya prosa lama hingga prosa modern. Dari khasanah prosa lama kita mengenal cerita-cerita rakyat seperti: mite,legenda,fabele,hikayat dan lain-lain. Prosa lama yang wujudnya berupa cerita rakyat ,atau juga dikenal dengan istilah folklor seperti diuraikan di atas,pada awalnya merupakan sastra lisan.Keberadaan cerita rakyat ini sangat menyatu dengan dengan kegiatan kehidupan masyarakat sehari-hari. Cerita rakyat itu biasa menjadi pengantar tidur  bagi anak-anak dengan didongengkan oleh orangtuanya. Atau,diceritakan oleh masyarakat dari mulut kemulut.
Perkembangan Prosa fiksi

      Prosa  modern Indonesia berbeda dengan prosa lama. Apa yang disebut dengan prosa modern,seperti cerita pendek,novel,roman,novelette,merupakan pengaruh dari tradisi sastra barat.Pengaruh itu hadir di Indonesia seiring dengan datangnya para penjajah barat ke Indonesia. Prosa Indonesia modern dari mulai lahirnya hingga perkembangannya sekarang memiliki kekhasan-kekhasa,baik dalam bentuk maupun isinya. Kekhasan-kekhasan tersebut ternyata menandai cirri setiap kurun waktu (periode). Dari kesamaan cirri-ciri itu akhirnya dapat di runtut periodisasi karya-karya prosa Indonesia. Rachmat Djoko Prodopo (1995:18).

Berdasarkan ciri-ciri yang di sebut diatas, merumuskan periodisasi tersebut yaitu sebagai berikut:

Periode Balai Pustaka (20-30-an)

     Angkatan Balai Pustaka ini lahir tahun 1920, menguat tahun 1925-1935, dan melemah tahun 1940.Jenis prosa periode tahun ini terutama roman. Roman-roman masa ini kebanyakan mengangkat  permasalahan-permasalahan adat, gap antara antara kaum tua dengan kaum muda,dan bersifat kedaerahan.
Periode Pujangga Baru

     Angkatan ini mulai muncul pada tahun 1930,menguat pada tahun1933-1940, dan melemah pada tahun 1945. Prosa yang ditulis pada periode ini masih didominasi roman, meskipun cerita pendek pun ada. Corak prosa masa ini beraliran romantic. Masalah yang diangkat bersangkut paut dengan kehidupan masyarakat kota, masalah individu manusia,nasionalisme, dan bersifat didaksis.
 Periode 1945

      Angkatan ini lahir tahun 1940,menguat tahun 1943-1953,dan melemah tahun 1955-an.Pada periode ini, karya prosa berbentuk  cerita pendek (cerpen) mulai meluas. Prosa periode ini cenderunmg realistis,sinis,dan ironis terhadap keadaan diatas. Masalah-masalah yang  diangkat kebanyakan masalah-masalah kemasyarakatan,seperti kemiskinan,pelanggaran hak asasi manusia,ketidak adilan dan lain-lain.

Periode Angkatan 50

    
 Angkatan ini mulai lahir tahun 1950,menguat tahun 1955-19965,dan melemah tahun 1970. Pda masa ini Indonesia menganut sistem demokrasi parlementer liberal yang menyebabkan banyaknya partai di Indonesia. Situasi social,politik, ekonomi Negara seperti digambarkan diatas berpengaruh terhadap satra karena banyak sastrawan yang masuk dalam lembaga-lembaga kebudayaan tersebut.Akhirnya karya sastra pun mengusung dan mensosialisasikan ideologi  partai yang dimasukinya tersebut. Disamping itu, banyak juga satrawan yang “merdeka” dan lebih menganut prinsip menulis untuk kemanusiaan, bukan untuk partai tertentu. Hal ini menyebabkan corak sastra, termasuk juga prosa,beragam. Secara esteti, meneruskan konvensi angkatan 45. Yang berbeda adalah masalah yang dikemukakannya. Prosa masa ini banyak mengangkat masalah pertentangan politik, kehidupan masyarakat sehari-hari, juga kehidupan pedesaan. Selain itu, protes terhadap kebijakan pemerintah Orde lama pun banyak mewarnai karya-karya angkatan ini.

Periode Angkatan 70

      Angkatan ini sudah mulai muncul tahun 1960-an namun mualai menguat pada tahun 70-an,dan melemah sekitar tahun 1980-an. Masa transisi dari pemerintahan Orde Lama ke Orde Baru, dan arus kebudayaan Barat yang menghantam secara kuat, membuat situasi masyarakat tahun-tahu ini, terutama secara moral dan spiritual cukup bergejolak. Hal ini berpengaruh pula pada penciptaan karya sastra. Konvensi karya sastra yang ada selama ini dianggap tidak mampu lagi menyuarakan suara zaman 1970-an yang gemuruh. Oleh karena itu, pada masa ini banyak muncul 17 eksperimentasi dan inovasi,termasuk dalam bidang prosa. Prosa-prosa beraliran surealisme banyak muncul pada masa ini. Selain itu, pengaru filsafat eksistensialisme yang semakin kuat menyebabkan banyak karya prosa yang  bertema absurdisme. Muncul pula karya-karya prosa bertema sufistik.


Minggu, 03 Mei 2020

Fungsi Sastra


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) arti kata sastra adalah “karya tulis yang jika dibandingkan dengan tulisan lain, memiliki berbagai ciri keunggulan, seperti keaslian, keartistikan, keindahan dalam isi dan ungkapannya”. Karya sastra berarti karangan yang mengandung nilai-nilai kebaikan yang ditulis dengan bahasa yang indah. Sastra memberikan wawasan yang umum tentang masalah manusiawi, sosial, maupun intelektual, dengan caranya yang khas. Pembaca sastra dimungkinkan untuk menginterpretasikan teks sastra sesuai dengan wawasannya sendiri.

Menurut saya, fungsi sastra yang saya rasakan saat menikmati sebuah karya sastra, yaitu :

1. Fungsi Rekreatif. Mengapa? karena sastra adalah sebuah hiburan untuk diri saya tersendiri. Jika sedang tidak ada kegiatan atau sedang bosan saya bisa membaca sebuah novel atau karya sastra yang lainnya sehingga bisa menghilangkan rasa bosan saya.

2. Fungsi Estetis. Di dalam fungsi estetis ini sastra merupakan sebuah keindahan. Yang dimana bagi saya setiap karya sastra mempunyai arti keindahan tersendiri bagi penulis nya. Dari sini lah cara agar kita tertarik untuk membaca sebuah karya sastra melalui indahnya rangkaian yang telah tersusun dan sastra juga harus memiliki keindahan nya tersendiri.

3. Fungsi Didaktif. Nah setelah fungsi rekreatif dan fungsi estetis saya juga merasakan adanya fungsi didaktif yang dimana kita akan mendapatkan ilmu-ilmu baru berbagai makna dan aspek dalam kehidupan yang dimana bisa kita terapkan dalam kehidupan sendiri.

Kamis, 23 April 2020

Tokoh-Tokoh dan Sejarah Sastra Dunia



1.SIR WALTER SCOTT (1771 – 1832 )
          Sir Walter Scott dilahirkan di Edinhburg, Scotlandia, 15 agustus 1771, meninggal 21 September 1832. Ia merupakan pengarang Inggris yang paling kesohor dalam membuka abad kesembilan belas dengan cerita-cerita romantic dan puisi naratif yang diangkat dari kisah-kisah sejarah. Dua karyanya yang paling popular adalah Waverly (1814) dan Ivanhoe (1820).
          Masa kanak Scott tidaklah menyenangkan. Ia sering sakit-sakitan dan penderitaan itu harus ditanggung seumur hidup berupa kaki yang pincang. Oleh sebab itu, karya-karya awalnya dipublikasi bukan dengan namanya sendiri, sebagai akibat rasa rendah diri. Akan tetapi, karya-karyanya yang muncul setelah tahun 1825 menggunakan namanya, demikian pula pada karya-karya sebelumnya setelah mengalami cetak ulang.
          Tahun 1802 – 1903 muncul karya awalnya yang cukup berkualitas yaitu tiga jilid balada yang diangkat dari cerita – cerita lisan Scotlandia. Karya – karyanya yang lain adalah Minstrelsy, Lay of the Last Minstrel (1805), Lady of the Lake (1810), Guy Mannering (1815), Old Mortality (1816), Rob Roy (1817), kumpulan puisi Rokeby (1813), Quentin Durward (1823), The Talisman (1825), Anne of Geierstein (1829).
          Sebagaimana banyak pengarang kesohor yang mengalami kesulitan keuangan, Scott mengalami tahun 1826 yang menyebabkan ia harus menulis lebih banyak karya lagi. Karya-karya Scott menunjukkan latar belakang sejarah dan dunia lama oarng – orang Scotlandia dan Inggris. Karyanya yang terkenal yaitu Ivanhoe (salah satu favorit saya) berkisah tentang abad pertengahan di Inggris yaitu penggambaran konflik orang – orang Anglo Saxon dan orang – orang Normandia. Konflik itu diungkapkan dengan gaya bahasa yang khas dan sangat mengesankan sebagai pengarang romantic. Scott memperlihatkan kemampuan yang prima terutama penguasaannya atas bahan – bahan sejarah dan persoalan perwatakan.

Novel in Scotland - Wikipedia



2.EMILE ZOLA
          Dilahirkan di Paris . Salah seorang sastrawan Prancis yang kesohor dari abad kesembilan belas. Emile Zola merupakan pelopor aliran Naturalisme, corak utama sastra Prancis abad XVII. Sukses pertamanya dimulai dari novelnya Theresa Requin (1867) dan puncak karyanya adalah novel Germinal (1885) yang diikuti oleh sejumlah karya yang kadangkala controversial, seperti Nana (1881) yang dianggap pornografis. Novel ini mengungkapkan gambaran prostitusi secara gamblang sehingga pelukisannya kadangkala terlalu terbuka. Namun Zola bukan menulis tentang pornografi karena yang ingin dikatakannya adalah masalah moral. Karyanya yang lain adalah Les Rougons –Macquart (1870), La Fortune des Rougons (1871), Le Ventre de Paris (1873), La Conquete de Plassans (1875), Son Excellence Eugene Rougon (1876), L’Assommoir (1877), La Debacle (1892), Les Trois Villes (1894), Les Quatre Evangiles (1894), Les Heritiers Rabourdin (1874), Renee (1887), dan L’ouragan (1901)
          Disamping menghasilkan karya kreatif berupa fiksi novel dan drama, Zola juga menulis kritik, esai sastra dan sejumlah surat maupun pembelaan. Surat terbukanya yang merupakan pembelaan terhadap Alfred Dreyfus yang berjudul J’accuse (1898) merupakan pendapat yang berani dan tajam dalam membangkitkan rasa solidaritas yang tinggi. Akibat pembelaannya, ia harus menyingkir ke luar negeri selama setahun. Demikian juga kritik seninyayang lebih merupakan pembelaan terhadap karya-karya kaum impresionis seperti Eduard Manet danlain-lain. Kedudukannya sebagai tokoh aliran naturalism makin kukuh setelah ia menerbitkan Roman Experimental (1881), Le Naturalisme au Theatre (1881), dan Romanciers Naturalistes (1881)
          Menurut Zola, seni adalah alam yang dapat diindra melalui watak. Oleh karena itu, dalam novel Zola watak sangat diutamakan sehingga watak mampu menggambarkan setting, pikiran dan ide-ide dasar yang ingin disampaikan pengarang.


Émile Zola | French author | Britannica


3.VICTOR HUGO (1802 – 1885)
          Victor Hugo dilahirkan di Besancon, Prancis, 26 Februari 1802, meninggal 22 Mei 1885. Nama lengkapnya Victor Marie Comte Hugo, putra seorang jendral yang cukup terkemuka di zaman Napoleon. Ayahnya pernah menjadi gubernur di Spanyol dan Italia. Sejak usia lima belas tahun ia telah menulis puisi dan tahun 1817 mendapat pujian dalam sayembara yang diadakan Akademia Prancis dan tahun 1819 memperoleh hadiah sastra dari Academia des Jeux Floraux de Toulouse.
          Hugo menduduki tempat terhormat dalam sastra Prancis karena karya – karyanya mendominasi hampir seluruh abad 19. Ia merupakan pemuka aliran roamntik, baik dalam puisi maupun dlam prosa. Tahun 1822 terbit kumpulan puisinya Odes et Ballades yang berhasil menarik simpati public. Tahun 1823 terbit novel pertamanya Han d’Islande meruakan buku hadiah perkawinannya dengan Adele Foucher (1822). Di rumah pasangan inilah tempat pertemuan kaum romantikus Prancis. Drama yang pertama berupa epos Cromwel (1827) dan dramanya yang kesohor adalah Hernani (1830), Les Roi s”Amuse (1832), Marie Tudor (1833) dan Ruy Blus (1838).
          Selama tujuh belas tahun sejak penerbitan pertama, ia telah menerbitkan sejumlah kumpulan esai, tiga novel dan lima kumpulan puisi. Masing – masing kumpulan puisinya adalah Les Orientalis (1828), Feuilles d’ Automne (1831), Les Voix Interiues (1828), dan Les Rayons et Les Ombers (1840), Sementara dua romannya yang sangat terkenal dan tentunya sangat memikat hati saya adalah Notre Dome de Paris (18310 dan Les Mirables (1862)
          Melewati masa panjang dalam sejarah Prancis, Victor Hugo mengalami dan mengikuti kegiatan pemerintahan hingga saat rezim yang berkuasa jatuh dan ia ikut terusir. Namun pengalaman itu memperkaya wawasannya dalam kegiatan sastra. Sehingga masa pengasingannya ke luar negeri merupakan bagian dari kegiatannya belajar dan menulis hingga kembalinya ke Prancis setelah runtuhnya Kekaisaran Kedua (1870) dan berdirinya Republik Ketiga, dimana ia ikut ambil bagian dalam lembaga legislative. Meskipun dua decade terkhir kemtian orang – orang tercintanya, membuat ia tercambuk untuk menulis lebih banyak karya lagi. Ketika meninggal dunia, peti jenazahnya diarak dalam suatu prosesi nasional yang agung dari Arch de Triomphe ke Pantheon.
          Karya – karya Hugo merupakan banyak karya yang banyak memberi pengaruh kepada sastra dunia, menjadi bahan polemic dan sumber inspirasi. Ia merupakan salah seorang sastrawan agung dan kenamaan abad kesembilan belas dan secara khusus memberi landasan yang kuat dan kokoh dalam aliran romantic. Ia menulis dalam sejumlah genre sastra.

Mon Père ce héros _ A poem by Victor Hugo - The Story Hall - Medium


4.ALEXANDER DUMAS
          Dilahirkan di Prancis, 24 Juli 1802 dan meninggal 5 Desember 1870. Corak romantic yang dianut Dumas membawanya menekuni novel – novel sejarah dan kisah – kisah cinta yang memikat hati hingga karyanya abadi dalam dunia sastra. Diantara karyanya yang monumental dan menjadi favorit saya adalah The Three Musketeers, The Count of Monte Cristo dan The Man in The Iron Mask. Karya – karya ini menjadikan Dumas dicintai oleh rakyat Prancis.
          Ayahnya adalah seorang jendral yang jatuh bersamaan dengan jatuhnya Napoleon, meninggalkan kesultan keuangan hingga meninggalnya tahun 1870. Meskipun anak jendral, Dumas tidak mendapatkan pendidikan yang baik karena kesulitan keuangan keluarganya. Lantas untuk menghidupi keluarganya ia menjadi juru tulis pada tahun 1818 dan terakhir ia bekerja pada Duke Orleans yang beberapa tahun kemudian menjadi Raja Louis Philip. Dalam tahun 1820-an, dibawah pengaruh Shakspeare dan Sir Walter Scott, ia menulis sejumlah lakon romantic melodramatic dengan gaya dan model kisah – kisah sejarah yang melahirkan Henri III et Sa Cour (1829), Antony (1831) dan La Tour de Nesle (1832).
          Roman yang luar biasa, The Three Musketeers (1844) mengangkat nama Dumas sebagai pengarang dunia. Roman ini mencakup kisah sejarah selama lebih kurang lima puluh tahun, bermain dalam abad ketujuh belas, merupakan satu rangkaian dengan Twenty Years After.
          Novel dan lakon yang ditulis Dumas menunjukkan watak dasar seni romantic yang kuat dan meskipun ia hanya menulis cerita – cerita panjang, Dumas memberi Inspirasi akan bentuk cerita pendek, meskipun dalam rentang waktu yang panjang.
          Fiksi sejarah di dalam sejarah sastra dunia ditandai oleh Scott, Balzak dan Dumas yang menggali kisah – kisah sejarah secara meyakinkan dan kemudian abad sesudahnya dilakukan oleh Henryk Sienkiewics (1846 – 1916) dari Polandia, Par Lagervist (1891 - !974) dari Swedia, Boris Pasternak (1890 – 1960) dari Uni Sovyet, dan lain – lain. Namun, Alexander Dumas menduduki tempat khusus dari para penulis fiksi sejarah karena ia mengambil sudut pandang yang khas Prancis dari satu setting waktu.
          Akhir hidupnya, pengarang kenamaan ini tidaklah seharum karya-karyanya. Ia berpulang secara mengejutkan dan misterius di rumah putranya Alexander Dumas Jr. seorang pengarang yang mengikuti jejaknya. Hanya sayang, Ibu putranya ini tak pernah dinikahinya sampai akhir hayatnya.


Adventure Time with Alexandre Dumas - SciHi BlogSciHi Blog



5.CHARLES DICKENS
          Lahir di Landport, Inggris. 7 Februari 1812, meninggal di Gadshill, Rochester, 9 Juni 1870. Nama lengkapnya Charles John Huffmen Dickens, merupakan salah seorang pujangga ternama Inggris. Orang tuanya yang miskin dan kehidupan masa kanak-kanaknya yang suram tidak mematahkan semangatnya yang ingin maju.
          Karir sastranya dimulai dari Catham dan kemudian di London dengan membuat sketsa-sketsa yang ditanda-tanganinya sendiri menggunkanan nama samara Boz. Merasa memiliki kemampuan yang cukup, ia menulis Pickwik Papers (1836) yang diselesaikan tahun 1837. Tahun 1838 ia menulis Oliver Twist (salah satu favorit saya) dan kemudian diteruskan dengan Nicholas Nickleby. Sukses kedua buku ini membuat ia memeruskan dengan karya-karya barunya seprti The Old Curiosity Shop (1841), Barneby Rudge (1841), Martin Chuzzlevit (1844), Christmas Books (1843-1848), Dombey and Son (1847-1848), David Copperfield (1849 -1850), Black House (1852-1853) dan A Tale of Two Cities (1859).
          Pada dasarnya Dickens seorang sastrawan humoris. Kelucuan tokoh-tokohnya yang seakan ssok yang hidup itu mencuatkan keinginan pembaca untuk mengikutin kisah-kisahny yang unik. Pada awal karir kepengarangannya, Dickens memperlihatkan pengaruh realism, tetapi karya-karyanya yang lahir dalam kematangannya memperlihatkan bahwa ia cenderung bergeser pada aliran determinisme. Tendensi social dan simpatinya pada manusia muncul secara kuat meskipun tema kemelaratan dan kemiskinan di dalam beberapa karyanya menjadikan fiksi-fiksinya sentimental dan melodramatic.
          Dickens adalah orang yang biasa hidup di kota dan paling menyukai jalan-jalan di kota London. Seorang humoris besar yang mengamati pribadi orang. Keampuhannya adalah melukiskan watak orang kurang berpendidikan yang dilukiskannya dengan kekuatan yang mengagumkan. Banyak novelnya membuat orang memperhatikan kondisi social yang menyedihkan pada zamannya.
          Dickens merupakan nama yang abadi dalam sejarah sastra Inggris dan sejarah sastra dunia, karena karya-karyanya telah menjadi milik semua bangsa.


Charles Dickens | Biography, Facts, & Analysis | Britannica

Rabu, 01 April 2020

Best rhetorical figure


Ø  Definition of rhetoric
         Rhetoric is the art of persuasion, which along with grammar and logic, is one of the three ancient arts of discourse. Rhetoric aims to study the capacities of writers or speakers needed to inform, persuade, or motivate particular audiences in specific situations. Aristotle defines rhetoric as "the faculty of observing in any given case the available means of persuasion" and since mastery of the art was necessary for victory in a case at law; or for passage of proposals in the assembly; or for fame as a speaker in civic ceremonies; he calls it "a combination of the science of logic and of the ethical branch of politics". Rhetoric typically provides heuristics for understanding, discovering, and developing arguments for particular situations, such as Aristotle's three persuasive audience appeals: logos, pathos, and ethos. The five canons of rhetoric or phases of developing a persuasive speech were first codified in classical Rome: invention, arrangement, style, memory, and delivery.

Ø  One of best rhetorical figure in the world
Soekarno - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Ir. SOEKARNO
          Soekarno Dr. (H.C.) Ir.H. Soekarno, Birth name: Koesno Sosrodihardjo was born in Surabaya, East Java, June 6, 1901 - died in Jakarta, June 21, 1970 at the age of 69 years. Soekarno was an Indonesian politician who was the first president of Indonesia, serving from 1945 to 1967. Soekarno was the leader of the Indonesian struggle for independence from the Dutch Empire. 

        He was a prominent leader of Indonesia's nationalist movement during the Dutch colonial period and spent over a decade under Dutch detention until released by the invading Japanese forces in World War II. Soekarno and his fellow nationalists collaborated to garner support for the Japanese war effort from the population, in exchange for Japanese aid in spreading nationalist ideas. Upon Japanese surrender, Soekarno and Mohammad Hatta declared Indonesian independence on 17 August 1945, and Soekarno was appointed as its president.

         He led Indonesians in resisting Dutch re-colonization efforts via diplomatic and military means until the Dutch recognition of Indonesian independence in 1949. Author Pramoedya Ananta Toer once wrote, "Soekarno was the only Asian leader of the modern era able to unify people of such differing  ethnic, cultural and religious backgrounds without shedding a drop of blood.” He played an important role in freeing the Indonesian people from the Dutch colonialism.  Soekarno was the first to spark the concept of Pancasila as the basis of the Indonesian state and he himself named it.

The words of the orator that he continues to recognize are:
F “Hang your dreams high up in the sky! Dream high up in the sky. If you fall, you will fall between the stars.”
F “My struggle is easier because it expels invaders, your struggle will be more difficult because it is against your own people.”
F “A great nation is a nation that respects the services of its heroes.” [Ir. Sukarno, Speech of Heroes' Day November 10, 1961]


References :
Wikipedia

Selasa, 31 Maret 2020


31-03-2020 22:59
For you

Anggap saja ini sebuah surat yang saya tulis untuk kamu. I wrote this by love HAHA JK.
Saya tidak tau harus memulainya dari mana, harus bagaimana saya ceritakan tentang kamu betapa special nya kamu di hidup saya dan betapa beruntung nya saya punya kamu.
Ya kamu, sosok laki laki yang saya sayang dan yang saya punya saat ini. Kita bertemu tidak disangka-sangka dan dipertemukan secara buruk memang saya akui, tapi saya yakin dipertemukan nya saya dengan kamu pada saat itu ada rencana tuhan yang indah nantinya untuk kita.

“Meeting you was like listening a song for the first time and knowing it would be my favorite”.

Saya mau lewati hari demi hari, siang ke malam, jatuh dan bangun, susah dan senang sama kamu. Kalo bisa sih tuhan kasih kamu sebagai jodoh saya hehe egois ya? biarin memang saya maunya seperti itu, kalo tuhan berkehendak kamu bisa apa? :p

Saya cuma pengen bilang jangan pernah capek menghadapi sifat saya yang seperti ini, saya juga gak akan pernah capek sama kamu. Karena kamu sudah ngelakuin yang terbaik sejauh ini. Udah ah capek segini saja ya dulu hehe..

Oh ya one last thing, Saya senang bisa kenal kamu, jalanin ini semua sama kamu. I never want to lose you. Ever.

Sincerely

Your love

PLAGIARISM


What is plagiarism?

            Plagiarism is the representation of another author's language, thoughts, ideas, or expressions as one's own original work. Plagiarism is considered academic dishonesty and a breach of journalistic ethics. It is subject to sanctions such as penalties, suspension, expulsion from school or work, substantial fines and even incarceration. Recently, cases of "extreme plagiarism" have been identified in academia. The modern concept of plagiarism as immoral and originality as an ideal emerged in Europe in the 18th century, particularly with the Romantic movement. Plagiarism is not in itself a crime, but like counterfeiting fraud can be punished in a court for prejudices caused by copyright infringement, violation of moral rights, or torts. In academia and industry, it is a serious ethical offense. and many types of plagiarism do not constitute copyright infringement, which is defined by copyright law and may be adjudicated by courts. Plagiarism might not be the same in all countries. Some countries like India and Poland consider plagiarism to be a crime, and there have been cases of people being imprisoned for plagiarizing. In other instances plagiarism might be the complete opposite of "academic dishonesty," in fact some counties find the act of plagiarizing a professional's work flattering. Students who move to the United States from countries where plagiarism is not frowned upon often find the transition difficult.

Forms of plagiarism

v  Verbatim (word for word) quotation without clear acknowledgement
Quotations must always be identified as such by the use of either quotation marks or indentation, and with full referencing of the sources cited. It must always be apparent to the reader which parts are your own independent work and where you have drawn on someone else’s ideas and language.

v  Cutting and pasting from the Internet without clear acknowledgement
Information derived from the Internet must be adequately referenced and included in the bibliography. It is important to evaluate carefully all material found on the Internet, as it is less likely to have been through the same process of scholarly peer review as published sources.

v  Paraphrasing
Paraphrasing the work of others by altering a few words and changing their order, or by closely following the structure of their argument, is plagiarism if you do not give due acknowledgement to the author whose work you are using.

A passing reference to the original author in your own text may not be enough; you must ensure that you do not create the misleading impression that the paraphrased wording or the sequence of ideas are entirely your own. It is better to write a brief summary of the author’s overall argument in your own words, indicating that you are doing so, than to paraphrase particular sections of his or her writing. This will ensure you have a genuine grasp of the argument and will avoid the difficulty of paraphrasing without plagiarising. You must also properly attribute all material you derive from lectures.

v  Collusion
This can involve unauthorised collaboration between students, failure to attribute assistance received, or failure to follow precisely regulations on group work projects. It is your responsibility to ensure that you are entirely clear about the extent of collaboration permitted, and which parts of the work must be your own.


v  Inaccurate citation
It is important to cite correctly, according to the conventions of your discipline. As well as listing your sources (i.e. in a bibliography), you must indicate, using a footnote or an in-text reference, where a quoted passage comes from. Additionally, you should not include anything in your references or bibliography that you have not actually consulted. If you cannot gain access to a primary source you must make it clear in your citation that your knowledge of the work has been derived from a secondary text (for example, Bradshaw, D. Title of Book, discussed in Wilson, E., Title of Book (London, 2004), p. 189).

v  Failure to acknowledge assistance
You must clearly acknowledge all assistance which has contributed to the production of your work, such as advice from fellow students, laboratory technicians, and other external sources. This need not apply to the assistance provided by your tutor or supervisor, or to ordinary proofreading, but it is necessary to acknowledge other guidance which leads to substantive changes of content or approach.

v  Use of material written by professional agencies or other persons
You should neither make use of professional agencies in the production of your work nor submit material which has been written for you even with the consent of the person who has written it. It is vital to your intellectual training and development that you should undertake the research process unaided. Under Statute XI on University Discipline, all members of the University are prohibited from providing material that could be submitted in an examination by students at this University or elsewhere.

v  Auto-plagiarism
You must not submit work for assessment that you have already submitted (partially or in full), either for your current course or for another qualification of this, or any other, university, unless this is specifically provided for in the special regulations for your course. Where earlier work by you is citable, ie. it has already been published, you must reference it clearly. Identical pieces of work submitted concurrently will also be considered to be auto-plagiarism.

References :
Wikipedia
https://www.ox.ac.uk/students/academic/guidance/skills/plagiarism?wssl=1#

Minggu, 29 Maret 2020

PUBLIC SPEAKING

   Berbicara di depan umum adalah proses atau tindakan melakukan pidato kepada audiensi langsung.  Berbicara di depan umum dipahami sebagai pembicaraan langsung dari satu orang ke sekelompok pendengar.  Secara tradisional, berbicara di depan umum dianggap sebagai bagian dari seni persuasi.  Tindakan tersebut dapat mencapai tujuan tertentu termasuk untuk memberi informasi, membujuk, dan menghibur.  Selain itu, metode, struktur, dan aturan yang berbeda dapat digunakan sesuai dengan situasi berbicara.  formal, berbicara di muka umum dikembangkan di Roma dan Yunani.  Pemikir-pemikir terkemuka dari negeri-negeri ini memengaruhi perkembangan dan sejarah evolusi berbicara di depan umum.  Saat ini, teknologi terus mengubah seni berbicara di depan umum melalui teknologi yang baru tersedia seperti konferensi video, presentasi multimedia, dan bentuk nontradisional lainnya.

 Penggunaan
       Berbicara di depan umum dapat melayani tujuan mentransmisikan informasi, bercerita, memotivasi orang untuk bertindak atau mendorong orang.  Jenis pidato ini sengaja disusun dengan tiga tujuan umum: untuk memberi informasi, untuk membujuk dan menghibur.  Mengetahui kapan berbicara di depan umum adalah yang paling efektif dan bagaimana hal itu dilakukan dengan benar adalah kunci untuk memahami pentingnya itu.  Berbicara di depan umum untuk acara bisnis dan komersial sering dilakukan oleh para profesional.  Para pembicara ini dapat dikontrak secara independen, melalui perwakilan oleh biro pembicara, atau dengan cara lain.  Berbicara di depan umum memainkan peran besar dalam dunia profesional.  Bahkan, diyakini bahwa 70 persen dari semua pekerjaan melibatkan beberapa bentuk berbicara di depan umum.

Sejarah
            A.  BERAWAL DARI RETORIKA
    Public speaking sebagai retorika, seni berbicara secara efektif, telah ada sejak awal peradaban manusia. Walau tidak dapat menyebutkan tahunnya dengan pasti, beberapa temuan dari masa peradaban kuno memperlihatkan keberadaan public speaking dalam masyarakat mereka. William Hallo menelusuri bahwa retorika telah tercatat di Mesopotamia Kuno (yang sekarang menjadi lokasi negara Irak) sekitar 2285 tahun sebelum masehi (SM), dibuktikan dengan dokumentasi cerita mengenai para raja dan pendeta yang diukir di atas batu (Binkley & Lipson, 2004: 3).

  Bukti lain keberadaan retorika juga dapat dilihat pada peninggalan Mesir Kuno, sekitar 2080 tahun sebelum masehi, berupa tulisan tentang aturan retorika (Hutto, 2002: 213). Aturan tersebut menyatakan bahwa "tahu kapan harus diam" adalah pengetahuan yang penting dalam retorika. Orang Mesir Kuno berpendapat bahwa menjaga keseimbangan antara kefasihan berbicara dengan kebijakan untuk diam adalah sebuah hal yang penting. Retorika juga dapat dilacak sampai ke Daratan Cina pada ajaran ajarannya Konfusius, filsuf Cina yang berkembang menjadi agama Konghucu, yang menekankan pentingnya kefasihan dalam berbicara.

  Sejarah retorika yang paling terkenal praktik public speaking dalam bentuk retorika tela banyak diterapkan dalam masyarakat Yunani Kuno. Pada masa itu keputusan yang menyangkut masyarakat diambil dalam sebuah rapat besar yang dihadiri para warga polis, kota-kota di Yunani yang biasanya dikelilingi oleh tembok benteng. Orang yang berhak hadir dalam rapat tersebut dan memberi pendapat adalah warga polis yang tercatat secara hukum sebagai warga bebas, bukan budak maupun tahanan. Perubahan politik dari bentuk kerajaan menjadi bentuk demokrasi pada masa itu memang sangat mendorong kebebasan berbicara. Karena itu, kemampuan berbicara di depan umum menjadi penting untuk mempengaruhi keputusan-keputusan yang diambil dalam rapat atau pertemuan politik.

 Praktik retorika juga terlihat di pengadilan Yunani kuno. Kedua pihak yang bertikai saling melemparkan argumen untuk mempengaruhi keputusan hakim dan juri untuk memenangkan mereka. Selain itu, para pemikir Yunani Kuno biasanya menyampaikan pemikiran mereka di depan publik dalam kompetisi mencapai kemasyhuran atau pengaruh politik. Kata retorika yang kita kenal didapat kata Yunani “rhetorike”, yang melingkupi teori dan praktik berpidato di depan publik (Herrick, 2001: 34).
  
     B.  PEMBUKTIAN RETORIKA
  Pandangan Aristoteles tentang retorika tertuang dalam tiga buah buku. Buku pertama membahas tentang Pembicara, tentang apa yang harus dilakukan oleh Pembicara dalam retorika, terutama menyangkut kredibilitas Pembicara. Buku kedua membahas tentang Publik yang dipercayai Aristoteles sebagai unsur terpenting dalam retorika. Publiklah yang menentukan keberhasilan retorika. Buku ketiga menyangkut bagaimana hadir dalam retorika, apa yang terjadi dalam proses retorika tersebut.

  Buku-buku tersebut merupakan kumpulan dari materi-materi kuliah yang ia berikan di Akademi Plato. Karena tidak dimaksudnya untuk terbit sebagai buku, kumpulan catatan tersebut cenderung tidak runtut dan tidak tersusun dengan baik. Namun sampai sekarang ketiga buku tersebut tepat dipelajari para ahli public speaking dan dianggap sebagai referensi public speaking yang paling berpengaruh sepanjang jaman.

  Ada dua asumsi dasar dalam teori Retorika yang diajukan Aristoteles. Pertama, Pembicara yang efektif harus mempertimbangkan publik mereka. Pembicara harus berorientasi pada Publik, bahwa Publik adalah individu yang memiliki motivasi, keputusan, pilihan tersendiri, bukan sebagai entitas homogen. Jadi Pembicara perlu menyesuaikan cara penyampaian sesuai kondisi publik mereka supaya publik merespons sesuai harapan pembicara. Bagi Aristoteles, publik adalah elemen retorika yang paling menentukan kesuksesan retorika, bukan elemen pembicara dan isi pembicaraan. Kedua, Pembicara yang efektif memanfaatkan beragam cara pembuktian dalam presentasi mereka. Aristoteles percaya bahwa retorika harus berisi bukti-bukti agar dapat diterima oleh publik.

  Terdapat tiga pembuktian yang dapat dipakai dalam retorika:
1. Logos atau logika. Pembuktian logika berisi argumen-argumen yang masuk akal, yang didapat dari penyimpulan fakta-fakta yang ada. Misalnya saja logika berikut ini:
a. Pernyataan pertama: bermain adalah hak asasi setiap anak (umum-
tentang semua anak)
b. Pernyataan kedua: Adi adalah anak berusia 7 tahun (khusus-hanya
tentang Adi)
c. Kesimpulan: Adi memiliki hak asasi untuk bermain.

  Logika tersebut dapat dipakai dalam kampanye menghapus pekerja/buruh anak (child labour) dengan mengemukakan argumen bahwa seorang anak, walau dari keluarga tidak mampu, memiliki hak asasi untuk bermain, jadi Negara harus memastikan bahwa hak asasi tersebut terpenuhi. Logika argumen dapat bersifat deduktif (dari umum ke khusus) seperti contoh premis di atas, dapat juga bersifat induktif. Argumen bersifat induktif misalnya dengan memberikan contoh-contoh spesifik dahulu lalu menarik kesimpulan yang lebih umum berdasarkan contoh spesifik tersebut. Contoh lain dari logika adalah sebagai berikut: Pernyataan pertama: Ada petugas hukum yang menyelewengkan hukum. Pernyataan kedua: Bapak A adalah petugas hukum.

Kesimpulan: Bapak A mungkin menyelewengkan hukum.
Jadi penarikan kesimpulan harus berdasarkan fakta, namun mengandung ketidakpastian tertentu. Retorika dapat dipakai mempengaruhi orang lain berpikir bahwa Bapak A mungkin menyelewengkan hukum, atau dapat juga mempengaruhi pikiran bahwa Bapak A mungkin tidak menyelewengkan hukum.

2. Ethos atau Etika. Retorika tidak cukup bila hanya berisi argumen- argumen logika. Pembicara juga harus terlihat memiliki kredibilitas. Kesan pertama publik terhadap pembicara tidak dimulai saat ia berbicara pertama kali, melainkan sebelumnya. Pembicara yang terlihat meyakinkan, memiliki kredibilitas, membuat efek argumen retorika semakin kuat.

3. Pathos atau emosi. Retorika akan memiliki daya menggerakkan publik bila mampu menggugah emosi publik. Aristoteles mengenali bahwa orang akan menilai atau bertindak dengan cara berbeda saat dalam kondisi emosi duka dibanding saat bahagia. Saat kita senang kita akan menilai orang yang sedang diadili di pengadilan sebagai orang yang kejahatannya ringan atau tidak bersalah sama sekali. Namun saat kita marah, penilaian kita akan berbeda.

  Meskipun ada bukti pelatihan pidato publik di Mesir kuno, tulisan pertama yang diketahui tentang pidato, yang ditulis lebih dari 2.000 tahun yang lalu, berasal dari Yunani kuno.  Karya ini menguraikan prinsip-prinsip yang diambil dari praktik dan pengalaman orator Yunani kuno.  Aristoteles adalah orang yang pertama kali merekam guru-guru pidato untuk menggunakan aturan dan model yang pasti.  Penekanannya pada pidato menyebabkan orasi menjadi bagian penting dari pendidikan seni liberal selama Abad Pertengahan dan Renaissance.

  Karya kuno klasik yang ditulis oleh orang Yunani kuno menangkap cara mereka mengajar dan mengembangkan seni berbicara di depan umum ribuan tahun yang lalu.  Di Yunani klasik dan Roma, retorika adalah komponen utama dari komposisi dan penyampaian pidato, yang keduanya merupakan keterampilan penting bagi warga negara untuk digunakan dalam kehidupan publik dan pribadi.  Di Yunani kuno, warga negara berbicara atas nama mereka sendiri daripada memiliki profesional, seperti pengacara modern, berbicara untuk mereka.  Setiap warga negara yang ingin berhasil di pengadilan, dalam politik atau dalam kehidupan sosial harus belajar teknik berbicara di depan umum.

  Alat retoris pertama kali diajarkan oleh sekelompok guru retorika yang disebut Sofis yang terkenal karena mengajar siswa membayar cara berbicara secara efektif menggunakan metode yang mereka kembangkan.  Terpisah dari kaum Sofis, Socrates.  Plato dan Aristoteles mengembangkan teori mereka sendiri berbicara di depan umum dan mengajarkan prinsip-prinsip ini kepada siswa yang ingin belajar keterampilan dalam retorika.  Plato dan Aristoteles mengajarkan prinsip-prinsip ini di sekolah-sekolah yang mereka dirikan.  Akademi dan The Lyceum, masing-masing.  Meskipun Yunani akhirnya kehilangan kedaulatan politik, budaya pelatihan berbahasa Yunani di depan umum diadopsi hampir identik oleh orang Romawi.

 Pidato sejarah
  Meskipun ada pergeseran gaya, contoh-contoh terkenal dari berbicara di depan umum yang kuat masih dipelajari bertahun-tahun setelah penyampaiannya.  Di antara contoh-contoh ini adalah: Orasi Pemakaman Perikles pada 427 SM yang ditujukan kepada mereka yang meninggal selama Perang Peloponnesia. Abraham Lincoln's Gettysburg Address pada tahun 1863 Sojourner Truth mengidentifikasikan masalah rasial dalam "Bukankah Aku Seorang Wanita? Pesan Mahatma Gandhi tentang perlawanan tanpa kekerasan di India,  yang pada gilirannya mengilhami pidato Martin I Luther King, Jr. "I Have a Dream" di Monumen Washington pada tahun 1963. Wanita dan berbicara di depan umum Sepanjang abad ke-18 dan 19, wanita dilarang berbicara di depan umum di ruang sidang, lantai senat  , dan mimbar. Juga dianggap tidak pantas bagi perempuan untuk didengar di ruang publik. Pengecualian terhadap kebiasaan ini adalah agama Quaker yang memungkinkan perempuan berbicara di depan umum dalam pertemuan-pertemuan gereja. Frances Wright dikenal sebagai salah satu yang pertama  pembicara publik perempuan Amerika Serikat Dia mengadvokasi pendidikan yang setara bagi perempuan dan laki-laki melalui audiensi yang besar dan melalui pers.

Teknik dan pelatihan
  Berbicara di depan umum yang efektif dapat dikembangkan dengan bergabung dengan klub seperti Rostrum, Toastmasters International, Association of Speakers Clubs, atau Speaking Circles, di mana anggota diberi latihan untuk meningkatkan keterampilan berbicara mereka.  Anggota belajar dengan mengamati dan berlatih, dan mengasah keterampilan mereka dengan mendengarkan saran yang membangun diikuti dengan latihan berbicara di depan umum yang baru. Ini termasuk:
ü  Oratory
ü  Penggunaan gerakan
ü  Kontrol suara
ü  Vocabulary, register, pilihan kata
ü  Catatan berbicara, pitches
ü  Menggunakan humor
ü  Mengembangkan hubungan dengan audiens
ü  "Metode Tunjukkan Tangan"
ü  Antusiasusi pengenalan efektif
ü  Upaya mencapai hati
ü  Penggunaan pertanyaan yang efektif

  Milenium baru telah menyaksikan peningkatan nyata dalam jumlah solusi pelatihan yang ditawarkan dalam bentuk video dan kursus online.  Video dapat memberikan contoh perilaku aktual untuk ditiru.  Pembicara publik profesional sering terlibat dalam pelatihan dan pendidikan yang berkelanjutan untuk menyempurnakan keahlian mereka.  Ini mungkin termasuk mencari bimbingan untuk meningkatkan keterampilan berbicara mereka seperti belajar teknik mendongeng yang lebih baik, belajar bagaimana menggunakan humor secara efektif sebagai alat komunikasi, dan terus-menerus meneliti dalam bidang topik yang menjadi fokus mereka.  Glossophobia Ketakutan umum berbicara di depan umum disebut glossophobia, keadaan respons oleh banyak pemula yang bingung dengan saraf normal dan kecemasan dengan fobia asli. 

Teknologi
  Teknologi baru juga telah membuka berbagai bentuk berbicara di depan umum yang tidak bersifat tradisional seperti YouTube. YouTube adalah platform lain yang memungkinkan berbicara di depan umum untuk menjangkau audiens yang lebih besar.  Di YouTube, orang dapat memposting video diri mereka sendiri.  Pemirsa dapat menonton video ini untuk semua jenis tujuan.  Presentasi multimedia dapat berisi berbagai klip video, efek suara, animasi, pointer laser, clicker remote control dan poin-poin yang tak ada habisnya.  Semua menambah presentasi dan mengembangkan pandangan tradisional kami berbicara di depan umum.  Pembicara publik dapat menggunakan sistem respons audiens.  Untuk majelis besar, pembicara biasanya akan berbicara dengan bantuan sistem alamat publik atau mikrofon dan pengeras suara.  Bentuk-bentuk baru berbicara di depan umum, yang dapat dianggap tidak tradisional, telah membuka perdebatan tentang apakah bentuk-bentuk berbicara di depan umum ini benar-benar berbicara di depan umum atau tidak.  Banyak orang menganggap penyiaran YouTube tidak benar-benar bentuk public speaking karena tidak ada yang nyata.  audiens fisik.  Yang lain berpendapat bahwa berbicara di depan umum adalah tentang mengumpulkan sekelompok orang untuk mendidik mereka lebih lanjut terlepas dari bagaimana atau di mana audiens berada.

References :
Wikipedia
http://www.pustaka.ut.ac.id/lib/wp-content/uploads/pdfmk/SKOM4312-M1.pdf

Fenomena Kepenulisan

            Sebenarnya saya tidak suka membaca, karena menurut saya jika membaca dengan teks yang panjang sangat membosankan. Saya lebih s...