Senin, 04 Mei 2020

Fenomena Kepenulisan


            Sebenarnya saya tidak suka membaca, karena menurut saya jika membaca dengan teks yang panjang sangat membosankan. Saya lebih suka menulis. Dengan menulis saya bisa mencurahkan apa yang terlintas di pikiran saya, saya bisa luapkan itu semua melalui tulisan.

            Kalau saya jadi penulis, saya ingin menjadi penulis random seperti puisi salah satu contohnya. Kenapa? Karena dari sebuah curahan bisa terbentuk bait yang indah. Ketika saya jatuh cinta, itu akan menjadi sebuah puisi cinta, dan lain macamnya.

Berikut adalah fenomena kepenulisan yang sering terjadi :

Memulainya dengan Mencari Judul

            Ide akan hadir ketika ada permasalahan, ada fenomena. Ide menuntut kejelian dari peneliti untuk menangkap fenomena. Caranya? Bisa dilakukan dengan cara melihat, mendengarkan, mengamati, atau mengalaminya sendiri. Artinya, mahasiswa harus peka terhadap perkembangan di sekitarnya.
Tangkap fenomena, temukan ide, tentukan fokus masalah, barulah judul dapat ditentukan.

Permasalahan Tidak Fokus

            Fokus masalah adalah masalah yang lebih dominan muncul dalam fenomena/objek yang ingin dikaji, lebih krusial, dan lebih aktual. Setiap fenomena atau kasus pasti memiliki fokus utama permasalahan, dan peneliti hendaknya jeli terhadap hal itu. Peneliti tidak boleh terlalu rakus ingin membahas segala hal, dari berbagai sisi. Karena sudah sifatnya kajian yang abstraksi, hanya mampu menjelaskan sisi tertentu saja. Jika keseluruhan, pasti akan sangat melelahkan peneliti dan membuat kajian tidak mendalam.
            Misalnya, fenomena yang ditangkap adalah mengenai adanya eksploitasi perempuan di media massa. Maka yang seharusnya dibahas adalah mengenai penekanan pada bentuk-bentuk eksploitasi yang diterima oleh perempuan, seperti: stereotipe, labelisasi, stigmatisasi, komodifikasi, patriarkisme, kekerasan simbolik, dsb dari industri media terhadap perempuan. Penekanan masalah lebih baik membahas satu konteks konsep saja agar batasan masalah tidak meluas kemana-mana.

Remeh dengan Data/Observasi Awal

            Penulisan latar belakang masalah juga harus didukung dengan data-data awal sebagai bukti bahwa masalah itu benar terjadi, bukan diciptakan. Data-data yang ditemukan peneliti di lapangan dapat menjadi fakta bahwa penulisan latar belakang bukan sekadar anganan penulis belaka. Hanya saja, inilah yang paling sering diabaikan mahasiswa ketika meramu latar belakang masalah. Tidak menganggap penting data awal penelitian.
            Untuk menemukan masalah, penulis harus dapat memperkuat temuan data/fakta terhadap suatu fenomena. Dikatakan terdapat suatu masalah adalah ketika ada kesenjangan antara das sein dengan das sollen, ada pertentangan antara fakta yang ditemukan di lapangan (kasus-kasus ataupun bukti data yang sudah teruj/kredibel) dengan harapan-harapan ataupun norma-norma yang telah disepakati bersama (visi-misi, undang-undang, kebijakan, dsb).

Salah dalam Menjelaskan

            Hal terakhir yang juga mungkin rentan dilakukan oleh peneliti pemula adalah kesalahan dalam menjelaskan latar belakang masalah. Kesalahan dalam menjelaskan membuat alur tulisan tidak runut dan teratur, sehingga tidak enak dibaca dan membingungkan. Kesalahan dalam menjelaskan bisa berkaitan dengan alur, kelengkapan unsur-unsur tulisan, teknik transisional, kedalaman, dan teknik penutupan yang tepat.
            Cara paling mudah agar dapat menjelaskan dengan baik adalah membuat pointer atau kerangka penulisan latar belakang. Penulis pemula lebih baik menyusun terlebih dahulu poin-poin penting yang ingin dibahas, dengan melengkapi temuan kasus, data-data, undang-undang /kebijakan/norma yang berkaitan, kajian teoritis yang tepat, dan alasan mengapa penelitian penting dilakukan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Fenomena Kepenulisan

            Sebenarnya saya tidak suka membaca, karena menurut saya jika membaca dengan teks yang panjang sangat membosankan. Saya lebih s...