Senin, 04 Mei 2020

Prosa Fiksi


Sejarah Prosa Fiksi

     Nusantara adalah wilayah yang kekayaan karya prosanya sangat luar bias. Karya-karya prosa itu terbentang mulai dari karya prosa lama hingga prosa modern. Dari khasanah prosa lama kita mengenal cerita-cerita rakyat seperti: mite,legenda,fabele,hikayat dan lain-lain. Prosa lama yang wujudnya berupa cerita rakyat ,atau juga dikenal dengan istilah folklor seperti diuraikan di atas,pada awalnya merupakan sastra lisan.Keberadaan cerita rakyat ini sangat menyatu dengan dengan kegiatan kehidupan masyarakat sehari-hari. Cerita rakyat itu biasa menjadi pengantar tidur  bagi anak-anak dengan didongengkan oleh orangtuanya. Atau,diceritakan oleh masyarakat dari mulut kemulut.
Perkembangan Prosa fiksi

      Prosa  modern Indonesia berbeda dengan prosa lama. Apa yang disebut dengan prosa modern,seperti cerita pendek,novel,roman,novelette,merupakan pengaruh dari tradisi sastra barat.Pengaruh itu hadir di Indonesia seiring dengan datangnya para penjajah barat ke Indonesia. Prosa Indonesia modern dari mulai lahirnya hingga perkembangannya sekarang memiliki kekhasan-kekhasa,baik dalam bentuk maupun isinya. Kekhasan-kekhasan tersebut ternyata menandai cirri setiap kurun waktu (periode). Dari kesamaan cirri-ciri itu akhirnya dapat di runtut periodisasi karya-karya prosa Indonesia. Rachmat Djoko Prodopo (1995:18).

Berdasarkan ciri-ciri yang di sebut diatas, merumuskan periodisasi tersebut yaitu sebagai berikut:

Periode Balai Pustaka (20-30-an)

     Angkatan Balai Pustaka ini lahir tahun 1920, menguat tahun 1925-1935, dan melemah tahun 1940.Jenis prosa periode tahun ini terutama roman. Roman-roman masa ini kebanyakan mengangkat  permasalahan-permasalahan adat, gap antara antara kaum tua dengan kaum muda,dan bersifat kedaerahan.
Periode Pujangga Baru

     Angkatan ini mulai muncul pada tahun 1930,menguat pada tahun1933-1940, dan melemah pada tahun 1945. Prosa yang ditulis pada periode ini masih didominasi roman, meskipun cerita pendek pun ada. Corak prosa masa ini beraliran romantic. Masalah yang diangkat bersangkut paut dengan kehidupan masyarakat kota, masalah individu manusia,nasionalisme, dan bersifat didaksis.
 Periode 1945

      Angkatan ini lahir tahun 1940,menguat tahun 1943-1953,dan melemah tahun 1955-an.Pada periode ini, karya prosa berbentuk  cerita pendek (cerpen) mulai meluas. Prosa periode ini cenderunmg realistis,sinis,dan ironis terhadap keadaan diatas. Masalah-masalah yang  diangkat kebanyakan masalah-masalah kemasyarakatan,seperti kemiskinan,pelanggaran hak asasi manusia,ketidak adilan dan lain-lain.

Periode Angkatan 50

    
 Angkatan ini mulai lahir tahun 1950,menguat tahun 1955-19965,dan melemah tahun 1970. Pda masa ini Indonesia menganut sistem demokrasi parlementer liberal yang menyebabkan banyaknya partai di Indonesia. Situasi social,politik, ekonomi Negara seperti digambarkan diatas berpengaruh terhadap satra karena banyak sastrawan yang masuk dalam lembaga-lembaga kebudayaan tersebut.Akhirnya karya sastra pun mengusung dan mensosialisasikan ideologi  partai yang dimasukinya tersebut. Disamping itu, banyak juga satrawan yang “merdeka” dan lebih menganut prinsip menulis untuk kemanusiaan, bukan untuk partai tertentu. Hal ini menyebabkan corak sastra, termasuk juga prosa,beragam. Secara esteti, meneruskan konvensi angkatan 45. Yang berbeda adalah masalah yang dikemukakannya. Prosa masa ini banyak mengangkat masalah pertentangan politik, kehidupan masyarakat sehari-hari, juga kehidupan pedesaan. Selain itu, protes terhadap kebijakan pemerintah Orde lama pun banyak mewarnai karya-karya angkatan ini.

Periode Angkatan 70

      Angkatan ini sudah mulai muncul tahun 1960-an namun mualai menguat pada tahun 70-an,dan melemah sekitar tahun 1980-an. Masa transisi dari pemerintahan Orde Lama ke Orde Baru, dan arus kebudayaan Barat yang menghantam secara kuat, membuat situasi masyarakat tahun-tahu ini, terutama secara moral dan spiritual cukup bergejolak. Hal ini berpengaruh pula pada penciptaan karya sastra. Konvensi karya sastra yang ada selama ini dianggap tidak mampu lagi menyuarakan suara zaman 1970-an yang gemuruh. Oleh karena itu, pada masa ini banyak muncul 17 eksperimentasi dan inovasi,termasuk dalam bidang prosa. Prosa-prosa beraliran surealisme banyak muncul pada masa ini. Selain itu, pengaru filsafat eksistensialisme yang semakin kuat menyebabkan banyak karya prosa yang  bertema absurdisme. Muncul pula karya-karya prosa bertema sufistik.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Fenomena Kepenulisan

            Sebenarnya saya tidak suka membaca, karena menurut saya jika membaca dengan teks yang panjang sangat membosankan. Saya lebih s...