Sebenarnya saya tidak suka membaca, karena menurut saya
jika membaca dengan teks yang panjang sangat membosankan. Saya lebih suka
menulis. Dengan menulis saya bisa mencurahkan apa yang terlintas di pikiran
saya, saya bisa luapkan itu semua melalui tulisan.
Kalau saya jadi penulis, saya ingin menjadi penulis
random seperti puisi salah satu contohnya. Kenapa? Karena dari sebuah curahan
bisa terbentuk bait yang indah. Ketika saya jatuh cinta, itu akan menjadi
sebuah puisi cinta, dan lain macamnya.
Berikut adalah fenomena kepenulisan
yang sering terjadi :
Memulainya dengan Mencari Judul
Ide akan hadir ketika ada permasalahan, ada fenomena. Ide
menuntut kejelian dari peneliti untuk menangkap fenomena. Caranya? Bisa
dilakukan dengan cara melihat, mendengarkan, mengamati, atau mengalaminya
sendiri. Artinya, mahasiswa harus peka terhadap perkembangan di sekitarnya.
Tangkap fenomena, temukan
ide, tentukan fokus masalah, barulah judul dapat ditentukan.
Permasalahan Tidak Fokus
Fokus masalah
adalah masalah yang lebih dominan muncul dalam fenomena/objek yang ingin
dikaji, lebih krusial, dan lebih aktual. Setiap fenomena atau kasus pasti
memiliki fokus utama permasalahan, dan peneliti hendaknya jeli terhadap hal
itu. Peneliti tidak boleh terlalu rakus ingin membahas segala hal, dari
berbagai sisi. Karena sudah sifatnya kajian yang abstraksi, hanya mampu
menjelaskan sisi tertentu saja. Jika keseluruhan, pasti akan sangat melelahkan
peneliti dan membuat kajian tidak mendalam.
Misalnya, fenomena yang ditangkap
adalah mengenai adanya eksploitasi perempuan di media massa. Maka yang
seharusnya dibahas adalah mengenai penekanan pada bentuk-bentuk eksploitasi
yang diterima oleh perempuan, seperti: stereotipe, labelisasi, stigmatisasi,
komodifikasi, patriarkisme, kekerasan simbolik, dsb dari industri media
terhadap perempuan. Penekanan masalah lebih baik membahas satu konteks konsep
saja agar batasan masalah tidak meluas kemana-mana.
Remeh dengan Data/Observasi Awal
Penulisan latar
belakang masalah juga harus didukung dengan data-data awal sebagai bukti bahwa
masalah itu benar terjadi, bukan diciptakan. Data-data yang ditemukan peneliti
di lapangan dapat menjadi fakta bahwa penulisan latar belakang bukan sekadar
anganan penulis belaka. Hanya saja, inilah yang paling sering diabaikan
mahasiswa ketika meramu latar belakang masalah. Tidak menganggap penting data
awal penelitian.
Untuk menemukan masalah, penulis
harus dapat memperkuat temuan data/fakta terhadap suatu fenomena. Dikatakan
terdapat suatu masalah adalah ketika ada kesenjangan antara das
sein dengan das sollen,
ada pertentangan antara fakta yang ditemukan di lapangan (kasus-kasus ataupun
bukti data yang sudah teruj/kredibel) dengan harapan-harapan ataupun
norma-norma yang telah disepakati bersama (visi-misi, undang-undang, kebijakan,
dsb).
Salah dalam Menjelaskan
Hal terakhir
yang juga mungkin rentan dilakukan oleh peneliti pemula adalah kesalahan dalam
menjelaskan latar belakang masalah. Kesalahan dalam menjelaskan membuat alur
tulisan tidak runut dan teratur, sehingga tidak enak dibaca dan membingungkan.
Kesalahan dalam menjelaskan bisa berkaitan dengan alur, kelengkapan unsur-unsur
tulisan, teknik transisional, kedalaman, dan teknik penutupan yang tepat.
Cara paling mudah agar dapat
menjelaskan dengan baik adalah membuat pointer atau kerangka penulisan latar
belakang. Penulis pemula lebih baik menyusun terlebih dahulu poin-poin penting
yang ingin dibahas, dengan melengkapi temuan kasus, data-data, undang-undang
/kebijakan/norma yang berkaitan, kajian teoritis yang tepat, dan alasan mengapa
penelitian penting dilakukan.